Lasem - Situs Yang Terlupakan

Date: 19-08-2010
| More

lasem-01Menandai milenium baru dengan karakter global, terbukti menyeret kita ke dalam semangat individualis- tik yang ujung-ujungnya berspirit Kapitalis. Manusia urban terus bertambah, berjejal mengisi ruang-ruang kota yang terbatas. Semua seolah rela demi sebuah “masa depan’ yang tidak dimengerti.

Kota menjadi padat. Kota menjadi sebuah ikon kemajuan, potret modernisasi dengan ciri fisik, bangunan menjulang tinggi, serba tertutup kaca, dingin  beraroma harum parfum mahal. Berjajar komputer berdaya jangkau dunia.
Benar yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Dunia yang dilipat”, secara implisit menyadarkan kita adanya sebuah sistem yang bekerja global dengan transformasi komunikasi digital.

Kebalikan dari gambaran “kemajuan” di atas adalah “kemandegan” atau “ketertinggalan”.  Menjadi kajian menarik tatkala kita mau “melihat” dan meneliti  kota-kota dengan parameter di atas.
Kota Lasem terletak di Jawa Tengah bagian Utara. Dalam dokumen “Indonesia Discovery” yang sempat penulis baca dan amati secara langsung di lapangan, kota tersebut memiliki persoalan tersendiri yang mengakibatkan pertumbuhannya “lamban’.

Melihat sejarahnya, Lasem adalah kota tua, kota bandar yang pernah berjaya di masa lampau. Prof. Hembing Wijaya dalam bukunya Cheng Hoo, lasem-02mencatat Lasem dengan pelabuhannya yang ramai, disandari kapal-kapal yang mengangkut berbagai barang dagangan dari dalam dan luar negeri. Dari abad  XV – XVII , di Lasem telah ramai dihuni etnis Tionghoa yang memang berkepentingan dengan dunia dagangnya.
Sampai hari ini masih dapat kita lihat sisa-sisa kejayaan kota tersebut dalam bentuk gedung-gedung tua berukuran besar, berdinding tinggi, tebal   sebagai benteng.  Berarsitektur khas Cina daratan dengan lengkung manis di atapnya. Berornamen piring-piring porselen bergambar burung Phoenik, Naga atau Dewa.

Secara demografi, penulis melihat adanya dua hal menarik, pantas diteliti lebih jauh dan dituliskan. Pertama, “hilang”nya generasi muda etnis Tionghoa di Lasem. Kedua, terlihat adanya akulturasi dan asimilasi budaya Tionghoa dan Jawa .  
Penulis yang terlibat langsung dengan Indonesia Discovery merasa beruntung dapat ikut “merasakan” segala hal yang berkaitan dengan penelitian kota Lasem, semoga sedikit pemaparan ini dapat memberi gambaran.

 

   lasem-04   lasem-05

Malang, 15 Juli 2010
Bambang  AW (IDD)

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...