Menandai milenium baru dengan karakter global, terbukti menyeret kita ke dalam semangat individualis- tik yang ujung-ujungnya berspirit Kapitalis. Manusia urban terus bertambah, berjejal mengisi ruang-ruang kota yang terbatas. Semua seolah rela demi sebuah “masa depan’ yang tidak dimengerti.
Kota menjadi padat. Kota menjadi sebuah ikon kemajuan, potret modernisasi dengan ciri fisik, bangunan menjulang tinggi, serba tertutup kaca, dingin beraroma harum parfum mahal. Berjajar komputer berdaya jangkau dunia.
Benar yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Dunia yang dilipat”, secara implisit menyadarkan kita adanya sebuah sistem yang bekerja global dengan transformasi komunikasi digital.
Kebalikan dari gambaran “kemajuan” di atas adalah “kemandegan” atau “ketertinggalan”. Menjadi kajian menarik tatkala kita mau “melihat” dan meneliti kota-kota dengan parameter di atas.
Kota Lasem terletak di Jawa Tengah bagian Utara. Dalam dokumen “Indonesia Discovery” yang sempat penulis baca dan amati secara langsung di lapangan, kota tersebut memiliki persoalan tersendiri yang mengakibatkan pertumbuhannya “lamban’.
Melihat sejarahnya, Lasem adalah kota tua, kota bandar yang pernah berjaya di masa lampau. Prof. Hembing Wijaya dalam bukunya Cheng Hoo,
mencatat Lasem dengan pelabuhannya yang ramai, disandari kapal-kapal yang mengangkut berbagai barang dagangan dari dalam dan luar negeri. Dari abad XV – XVII , di Lasem telah ramai dihuni etnis Tionghoa yang memang berkepentingan dengan dunia dagangnya.
Sampai hari ini masih dapat kita lihat sisa-sisa kejayaan kota tersebut dalam bentuk gedung-gedung tua berukuran besar, berdinding tinggi, tebal sebagai benteng. Berarsitektur khas Cina daratan dengan lengkung manis di atapnya. Berornamen piring-piring porselen bergambar burung Phoenik, Naga atau Dewa.
Secara demografi, penulis melihat adanya dua hal menarik, pantas diteliti lebih jauh dan dituliskan. Pertama, “hilang”nya generasi muda etnis Tionghoa di Lasem. Kedua, terlihat adanya akulturasi dan asimilasi budaya Tionghoa dan Jawa .
Penulis yang terlibat langsung dengan Indonesia Discovery merasa beruntung dapat ikut “merasakan” segala hal yang berkaitan dengan penelitian kota Lasem, semoga sedikit pemaparan ini dapat memberi gambaran.