Semilir Sejuk di Kompleks Makam Agung Bangkalan-Madura

Date: 25-11-2010
| More

ma mkm samping

Pulau Madura sudah jauh waktu tercatat dalam sejarah Nusantara. Sebut saja pada proses awal berdirinya kerajaan Majaphit, dimana runtuhnya kerajaan Singasari oleh serangan Kadiri menyebabkan larinya Nararya Sanggramawijaya ke Pulau Madura untuk meminta bantuan kepada Adipati Wiraraja di Sumenep, (Nagarakretagama pupuh XLV sampai XLIX). Dengan begitu dapat diyakini bahwa banyak terjadi hubungan sosial, budaya dan agama antara penduduk Pulau Madura dan Majapahit pada masa itu. Persilangan budaya, sosial  dan agamapun terjadi, dan dari situs komplek “Makam Agung” inilah sedikit dapat terlacak perkisahannya.

 

 

ma gapuraSitus tua komplek “Makam Agung” di Bangkalan, suasana alam dan lingkungannya dapat kita rasakan begitu sejuk. Angin semilir dengan  lembut menebarkan sisa-sisa embun lepas dari dedaunan. Di alam Pulau Madura yang cukup gerah, pastilah suasana di komplek “Makam Agung” yang nyaman ini akan sedikit mengobati.

 

Namun sungguh ada yang sedikit mengusik pikiran saya, adanya kesan kurang terawat dan “jauh” dari hiruk pikuk para peziarah, turis domestik dan turis asing. Hal demikian tergambar jelas lewat Jalan masuk ke lokasi yang masih berupa tanah dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Sementara di dalam komplek, sepanjang sekian meter temboknya dibiarkan roboh berserak ditumbuhi lumut hijau. Bahkan tatkala penulis meninjau situs ini, tak satupun peziarah di sana, padahal sebelumnya saya sempat mampir ke situs makam “Aermata” yang tak jauh dari situs komplek “Makam Agung”. Di situs komplek makam “Aermata” saya dapati puluhan para peziarah makam yang datang silih berganti.

 

ma juru kunci (real size)

Rasanya, Situs komplek “Makam Agung” berbeda sekali disikapi para peziarah makam, sekalipun sebenarnya kedua situs penting saling berhubungan dan kebetulan berlokasi di kecamatan yang sama, Aerosbaya. Komplek makam “Aermata” di dusun Buduran, sedangkan situs komplek “Makam Agung” berada di desa Makam Agung, kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.

Komplek “Makam Agung” menyimpan makam dua Kyai dan seorang Raden yang dihormati. Selain ketiga makam tokoh tersebut, di sana dipenuhi pula puluhan makam lain yang tidak teridentifikasi. Kondisi makam-makam di sini tampak memelas. Banyak nisan dari bahan batu andesit  berukir dan bertulis huruf Arab, yang berdiri kotor dan berlumut dan tak jarang yang tinggal sebelah saja. Beberapa yang lain ditutup dengan kain putih dan diikat namun kainpun sudah pada robek oleh cuaca.

 

ma pragalbo

Makam yang dimengerti paling tua adalah makam paling Timur yakni makam Kyai Pragalbo (alias Pangeran Plakaran, meninggal tahun 1450 Saka. atau 1531M), dikelilingi 6 buah makam dengan beberapa stupa di pojok dindingnya.

 

 

 

ma koro

Di tengah ditempati makam Raden Koro (Pangeran Tengah, memerintah tahun 1592-1621 M). Beliau adalah putra Kyai Pratanu, ayah dari Pangeran Cakraningrat I. Pada makam ini tidak lagi di dapati ukiran atau sejenisnya. Lantainyapun masih berkalang tanah. Dan di ujung Barat dimakamkan Kyai Pratanu (Pangeran Lemah Duwur, yang memerintah  tahun 1592-1621 M). Makam ini memang menempati tanah yang ditinggikan dengan 22 buah makam. Di sini masih terdapat pilar yang berbentuk miniatur candi, lengkap bagian kaki, tubuh dan atap candi sebagaimana candi .  (Dra. H. Umiati, NS. Dkk, Makam Islam Di Jawa Timur, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prop. Jawa Timur, 2003: hal. 58).

 

ma tugu

Mengamati tahun meninggalnya Kyai Pragalbo 1450 saka atau tahun 1531 M; maka dapat dipastikan bahwa komplek “Makam Agung” ini bersangkut paut dengan sejarah kerajaan Majapahit di Pulau Jawa yang bertahun 1478 M pada masa akhir pemerintahan Bhre Kerthabumi alias Prabu Brawijaya V yang dalam Serat Kanda ditandai dengan candra sengkala berbunyi “Sirna ilang kertaning bhumi.” 

Dilingkari pagar batu andesit sebagaimana umumnya situs dari Jaman Majapahit dan candi bentar kecil sebagai pintu masuk menuju makam KyaiPragalbo, menyiratkan adanya pengaruh budaya Hindu. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sejarahnya, bahwa Pangeran Pragalbo memang semasa hidupnya beragama Hindu. Namun menjelang wafatnya beliau masih sempat menganut agama Islam sekalipun keyakinan itu cuma dijawab dengan  mengangguk. Peristiwa ini ditandai dengan candra sengkala Sirno Pendowo Kertaning atau 1450M.

 

ma ornamen

Pada jirat makam Pangeran Pragalbo didapat pula kesan ukiran cina, sulur-suluran bunga Seruni, sebagaimana banyak terlihat di ukiran Jepara. Karena diketahui bahwa Kerajaan Majapahit sudah berhubungan dagang dan bersilang budaya dengan negeri Cina, bahkan jauh sebelumnya. Hal demikian terbawa hingga masa selanjutnya.

 

Menurut sejarawan Ong Hok Ham alm; di Sumenep, tahun 1790 Pangeran Notokoesoemo I mendatangkan tukang-tukang Cina untuk mendirikan keraton dan masjid Sumenep.  Lebih jauh, beliau juga menerapkan politik asimilasi guna memberi perlindungan pada orang-orang Cina yang kemudian beraga Islam dan berganti nama bumi putera.  (DR. Ong Hok Ham, Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, Komunitas Bambu, Depok, 2005, hal. 28).

 

Dari kajian tersebut, sangat wajar bila pada komplek “Makam Agung” dapat dirasakan sebagai hasil asimilasi dari budaya Hindu, Cina dan Islam.

 

 

 

Malang, 25 November 2010

                                                                                                           Essay dan Photo oleh:  AW/IDD

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...