Entas-Entas Wong Tengger

Date: 01-12-2010
| More

Entas entas 4

Sampai saat ini nilai-nilai budaya suku Tengger masih dipegang teguh oleh masyarakat, baik yang ber-hubungan dengan umum maupun yang berhubungan dengan diri mereka sendiri. Modernisasi yang masuk bersamaan dengan interaksi yang mereka lakukan tidak mampu melunturkan atau menghilangkan identitas diri mereka. Identitas tersebut begitu melekat dengan jiwa mereka, misal dipakainya sarung kemana saja pergi, berpegang teguh pada ajaran welas asih pepitu, 20 wasiat, dan lain sebagainya.

 

 

 

Entas entas 3

Budaya yang telah melekat pada diri mereka dipandang sebagai suatu kumpulan pola-pola tingkah laku manusia dengan bersandar pada daya cipta dan keyakinan untuk keperluan hidup, sehingga budaya warisan leluhur masih terjamin keasliannya hingga sekarang. Budaya warisan tradisi nenek moyang tersebut dibedakan menjadi, upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan, upacara yang berkaitan dengan budaya masyarakat, dan upacara yang berkaitan dengan siklus alam. Diantara kegiatan upacara adat terselip kegiatan keagamaan

 

 

 

Entas entas 2 (real size)

Upacara terakhir bagi orang yang meninggal dunia adalah upacara entas-entas. Waktu menyelenggarakan upacara Entas-Entas tidak harus mencapai seribu hari minimal 44 hari setelah meninggal. Bagi Masyarakat Adat Tengger, Entas-Entas merupakan upacara sakral yang paling ditakuti, sebab jika sampai ada keluarga yang lupa menyelenggarakan upacara Entas-Entas bagi sanak saudaranya yang telah meninggal, maka keluarga tersebut akan mendapatkan musibah. Apalagi keluarga tersebut pernah bernadzar untuk mengentaskan arwah si leluhur. Upacara Entas-Entas merupakan serangkaian upacara kematian, dan merupakan upacara yang terakhir.

 

Rangkaian upacara ini, adma yang meninggal dibuatkan Petra, yaitu boneka dari daun-daunan dan bunga-bungaan. Upacara ini boleh dilakukan kepada Adma lebih dari satu orang. Masing-masing Adma yang akan dientas dibuatkan Petra. Kelengkapan dalam upacara ini adalah kain putih, cepel, bebek, cowek, beras, kulak, ayam. Makna dari  kelengkapan ini adalah kain putih melambangkan kesucian, kulak itu bambu yang dipotong dan melambangkan Adma, bebek adalah makhluk yang bisa memisahkan antara barang yang baik dan buruk, beras dan ayam adalah sebagai bekal dalam perjalanannya.

 

 

Entas entas 1

Untuk menekan biaya upacara, cowek sudah disediakan oleh dukun. Adma yang dientas diwakili oleh orang yang masih hidup meski tak ada hubungan saudara. Mereka yang mewakili Adma tidak memakai baju, bagi perempuan menggunakan kemben, dan bagi laki-laki tidak boleh memakai baju, atau kaos, hanya memakai celana. Sebab dalam pandangan mereka terdapat keyakinan bahwa orang yang mati tidak memakai baju ataupun lainnya. Mereka yang mewakili Adma dipayungi dengan kain putih panjang melingkar sebanyak mereka yang mewakili. Dukun, selain berperan memberi mantra juga berperan nyareni keperluan upacara seperti cosek, cepel. Setelah dimantrai oleh dukun, semua Petra dibawa ke tempat pembakaran untuk dibakar, hal ini sebagai lambang bahwa selama waktu itu roh si mati yang dianggap belum sempurna melalui upacara Entas-Entas telah dianggap sempurna. Upacara ini bertujuan untuk menyempurnakan arwah orang yang telah meninggal dunia dan semoga masuk ke alam nirwana. Dalam upacara ini disembelihkan kambing sebagai kendaraan menuju nirwana. Upacara yang dibaca dan paling dominan dari upacara ini adalah Setaben Palukat.

 

Demikian Semoga bermanfaat

 

 

 

Photo dan Essay Oleh: Isa Wahyudi

Direktur INSPIRE Indonesia

Psikolog dan Peneliti ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan tinggal di Malang

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...