Kajian Kearifan Lokal: "Kembang Galengan"

Date: 15-12-2010
| More

Kembang Galengan

Rangkaian kata-kata yang sederhana namun menurut saya memiliki kedalaman filosofi dan pemikiran dari penciptanya B.S Noerdian yang berasal dari kota Gandrung, Banyuwangi Jawa Timur. Syair lagu ini menggunakan bahasa Osing dari suku Osing yang tersebar di beberapa daerah di lereng Gunung Ijen.

 

Lirik lagu Kembang Galengan ini seakan mengisyaratkan tentang seseorang yang dengan sederhana dalam menyikapi hidup ini. Kembang galengan. Meletik sing nggawa aran. Tanpa rupa tanpa ganda. Mekare mung sak sorenan. Seseorang yang sederhana ibarat hanya sekuntum bunga penghias pematang, yang tak pelu mengunggulkan nama dan pribadi sebagai sebuah pencintraan. Penampilan yang sederhana,  ibarat bunga pun ia tak beraroma dan ia sangar sadar benar bahwa hidup ini demikian pendek dan terbatas, seperti bunga yang hanya mekar untuk satu sore lalu layu dan mati.

 

Bunga penghias pematang yang demikian sederhana telah melakoni kehidupan yang penuh suka duka ini, sayang jika harus diinjak-injak dan hanya disia-siakan saja, namun jika dipetik pun siapakah gerangan yang mau menerima sesuatu yang begitu sederhana ini? Sesuatu yang mungkin dianggap tak ada harganya! Apa yang ia inginkan hanyalah untuk menjadi sesuatu, sebuah warna yang telah memperkaya warna-warna yang ada di kehidupan ini, apapun warna itu.

 

Taping temena nyawang langit. Ngelirik unyike godong. Weruh obahe wit-witan. Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran.” Sebuah unsur keyakinan dan religi yang demikian kokoh tersirat dalam syair ini. Ia yang sederhana dengan segala kesederhanaannya, hati, jiwa dan pikirannya selalu bermunajat dan berbhakti pada Tuhan Pencipta Semesta, mengagumi dan menyelaraskan diri dengan segala ciptaanNya serta mencoba mengerti/membaca segala firman-firmanNya yang tak tertulis namun tersirat dalam setiap materi ciptaanNYa. Selaras dengan konsep manusia Jawa tentang “Sangkan Paraning Dumadi”, sebuah konsep tentang asal usul, jati diri dan kemana kembalinya manusia pada akhirnya. Demikianlah juga mereka, sangat religius !!!

 

Ungkapan rasa Nasionalisme kebangsaan, kecintaan mereka pada tanah air, tanah kelahiran mereka, juga tersirat tegas dalam lirik terakhir dari syair lagu ini. “Kembang galengan. Iming-imingana emas berlian. Aluk mituhu nunggu kedokan. Meluk nggandoli lemah prujukan.” Sekali lagi meski dengan kesederhaannya, bujuk rayu dengan emas permata atau apapun juga, tak akan dapat menggoyahkan untuk tetap berpijak, memeluk dan memperjuangkan tanah kelahirannya, tanah yang telah menumbuhkan dan membesarkannya. Betapa nasionalis!!!

 

Semoga ada petikan makna yang bermanfaat yang dapat diambil dari syair lagu dan tulisan sederhana ini….!!!

Isun iki yo ibarat hang aran kembang galengan, hang meletik sing nggawa aran, tanpa rupa tanpa ganda, mekare mung sak sorenan!”

 

Syair lagu Kembang Galengan

(Cipt: B.S. Noerdian)

 

Kembang galengan

Meletik sing nggawa aran

Tanpa rupa tanpa ganda

Mekare mung sak sorenan

 

Kembang galengan

Kaudanan kepanasan

Kaidek eman-eman

Dipetik sapa oyan

 

Kaidek eman-eman

Dipetik sapa oyan

Dipetik sapa hang oyan

Dipetik sapa hang oyan

 

Taping temena nyawang langit

Ngelirik unyike godong

Weruh obahe wit-witan

Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran

 

Kembang galengan

Iming-imingana emas berlian

Aluk mituhu nunggu kedokan

Meluk nggandoli lemah prujukan

 

 Terjemahan bebasnya:

 

Bunga penghias pematang

Terlempar tanpa nama

Tanpa pesona tanpa aroma

Hanya mekar untuk satu sore

 

Bunga penghias pematang

Kehujanan kepanasan

Terinjak sayang

Dipetik,  siapa yang mau?

 

Terinjak sayang

Dipetik,  siapa yang mau?

Dipetik,  siapa yang mau menerimanya?

Dipetik,  siapa yang maumenerimanya!

 

Tetapi, lihatlah langit dengan seksama

Melirik pupus-pupus daun

Terlihat gemulai gerak pepohonan

Ingin mengikuti arah angin mencari asal usul

 

Bunga penghias pematang

Bujuk rayulah ia dengan emas permata

Akan lebih baik menunggu petak-petak sawah

Memeluk dan memperjuangkan tanah dimana ia telah dibesarkan

 

 

Salam,

 

David Ardyanta/Indonesia Discovery

Photo by DvD/IDD

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...