Story: Candi Gunung Gangsir

Date: 14-01-2011
| More

Gunung Gangsir 1

Hari  masih  pagi, namun matahari sudah bersinar terik. Kilau keemasan

membias  disela-sela  embun  yang menempel di rerumputan, meninggalkan
jejak-jejak   kebekuan.  Tampak  sosok  wanita  separuh  baya  menyapu
pelataran  candi ditemani tujuh ekor angsa putih.

"Hendak  bermaksud  apa  kisanak sepagi ini datang ke candi" begitulah
percakapan   dalam  sandiwara  radio  yang  sering aku dengar beberapa
waktu  silam, jika aku terjemahkan sapaan Ibu Nurjanah pagi itu.

Ibu  Nurjanah  namanya. Bersama bapak Agus Susanto, mereka merawat dan
menjaga   kebersihan  pelataran  candi.  Rumah  mereka  tepat  di sisi
selatan  candi.   Tidak  sulit  menemukannya, pintu masuk candi ada di
sisi  barat.   Ada  jalan yang sudah diplester mengitari candi. Dan di
sebuah warung  itulah mereka tinggal menemani kebisuan candi.

Menurut penuturan Ibu Nurjanah, belum ada referensi resmi tentang asal
muasal   Candi  Gununggangsir.  Di halaman candi-pun belum ada tulisan
tentang  candi ini,  hanya papan penunjuk, papan peringatan, dan papan
nama candi.  Meskipun artikel tentang candi Gunung Gangsir sempat saya
cari  di  Google  dan  saya  dokumentasi,  isinya sama dengan apa yang
dikisahkan  Ibu Nurjanah. Kisah tentang candi ini adalah kisah warisan
yang  turun  temurun  diceritakan  oleh masyarakat sekitar. Bisa jadi
ditambah,   bisa jadi dikurangi. Terlepas dari itu, candi ini diklaim
sebagai candi batu bata merah tertua di Jawa Timur.

Gunung Gangsir 3 (real size)

 

Dibangun di atas lahan 62 x 24 meter ---sesuai dengan pagar bumi yang telah   dibuat  pemerintah,  dusun  Kebon Candi, desa Gununggangsir,  Kecamatan   Beji,  Kabupaten  Pasuruan,  Jawa  Timur.  Bangunan candimemiliki   panjang  20  meter  dengan  lebar  17 meter, tersusun atas tumpukan   batu  bata  berbentuk  segi empat dengan empat tingkat dan menghadap   ke  timur.  Memiliki  sebuah pintu yang cukup sulit untuk
dimasuki   karena  terlalu kecil. Mungkin juga ini sebuah relung yang terdapat   di  tingkatan ke tiga. Untuk mencapainya ada sebuah titian anak   tangga  setinggi  3  meter.  Candi  ini merupakan candi dengan tumpukan batu  bata  merah  dengan relief terbanyak. Sayang, banyak relief   yang  hilang karena dicuri. Motif reliefnya berbentuk bejana dengan   aneka hiasannya, serta sebuah relief wanita yang sudah tidak utuh  lagi, bisa jadi sudah rusak.

Kisah  yang  berkembang  di  masyarakat  menuturkan  bahwa  candi ini berfungsi   sebagai  tugu  peringatan atas keberhasilan panen tanaman pangan   pada  masa  itu.  Konon,  masyarakatnya  belum mengenal pola bercocok   tanam  dan  mereka  hidup  mengembara  dan memakan sejenis rumput  tuton.  Diperkirakan candi ini juga digunakan sebagai lumbung jika menilik  pintu kecil yang dimilikinya.

Legenda  yang  dikisahkan  kembali  oleh  Ibu Nurjanah dan Bapak Agus Susanto,

suatu  waktu  datanglah  Nyi  Sri  Gati yang mengajak para pengembara

memohon  petunjuk   kepada  Hyang  Widi  untuk  mengatasi
masalah  pangan  yang  sedang mereka  hadapi. Beberapa waktu kemudian
datanglah  sekelompok  burung  Gelatik yang menjatuhkan benih sejenis
padi-padian  untuk  selanjutnya   ditanam  di  sebelah  utara  candi.
Kisahpun  berlanjut,  tanaman  itupun   tumbuh  dan menghasilkan padi
sedangkan  kulitnya menghasilkan  permata. Hal ini menjadikan Nyi Sri
Gati  menjadi  kaya  raya,  dan karena kedermawannya pula dia dikenal
dengan  nama  Mbok  Rondho   Dermo.  Kekayaannya  tentu  saja menarik
perhatian  banyak orang  termasuk orang-orang kepercayaannya sendiri.
Mereka   mulai  menggelapkan  perhiasan-perhiasan yang akan dijual ke
daerah  lain,   namun karena kesaktiannya perahu yang ditumpangi para
penjarah   dilontarkan  dan menjadi gunung Prau. Konon, gunung itulah
yang saat  ini terletak di sisi gunung Penanggungan.


Itulah  legenda  yang  tidak  akan  pernah lepas dari asal usul suatu
daerah.  Gunung  Gangsir masih menyisakan misteri kapan dan untuk apa
candi   itu dibuat. Saat ini sedang dalam perbaikan, menyusun kembali
batu  bata menjadi sebuah bangunan yang disebut dengan CANDI.

Gunung Gangsir 2Akses  menuju ke Candi Gunung Gangsir tidaklah sulit, hanya saja jika
menggunakan   angkutan  umum masih harus dilanjutkan dengan menumpang
ojek.  Dari   arah Malang, masuk melalui Pasar Pandaan lurus ke Utara
menyusuri  jalan   Gunung  Gangsir.  Sepanjang  perjalanan  kita akan
menikmati pemandangan  kawasan industri (pabrik) hingga puncak Gunung
Gangsir.   Sesampainya  di  perempatan Beji, belok kanan lebih kurang
2km  hingga  menemukan papan penunjuk Candi Gununggangsir. Dari papan
penunjuk,   menyeberang  rel  kereta  api  (hati-hati karena lintasan
tidak  berpintu)   100 meter ke depan terpampang jelas bangunan candi
ditengah  hiruk pikuknya perkampungan.

Jika  melihat  posisi  pintu  dan tangga, candi ini menghadap ke arah
timur,   namun  pelataran  candi  justru  di sebelah barat. Jika pagi
hari,   memotret  badan  candi  dari  sisi pelataran harus berhadapan
langsung   dengan  sinar matahari. Selamat berburu, jangan lupa cukup
tinggalkan   jejak kaki dan capture tanpa harus menyisakan sampah dan
goresan.

Keep clean, save our herritage!

http://www.facebook.com/album.php?aid=28980&id=114650075251532&ref=mf

 

Essay & Photo by Andika Prasetyo

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...