Hari masih pagi, namun matahari sudah bersinar terik. Kilau keemasan
membias disela-sela embun yang menempel di rerumputan, meninggalkan
jejak-jejak kebekuan. Tampak sosok wanita separuh baya menyapu
pelataran candi ditemani tujuh ekor angsa putih.
"Hendak bermaksud apa kisanak sepagi ini datang ke candi" begitulah
percakapan dalam sandiwara radio yang sering aku dengar beberapa
waktu silam, jika aku terjemahkan sapaan Ibu Nurjanah pagi itu.
Ibu Nurjanah namanya. Bersama bapak Agus Susanto, mereka merawat dan
menjaga kebersihan pelataran candi. Rumah mereka tepat di sisi
selatan candi. Tidak sulit menemukannya, pintu masuk candi ada di
sisi barat. Ada jalan yang sudah diplester mengitari candi. Dan di
sebuah warung itulah mereka tinggal menemani kebisuan candi.
Menurut penuturan Ibu Nurjanah, belum ada referensi resmi tentang asal
muasal Candi Gununggangsir. Di halaman candi-pun belum ada tulisan
tentang candi ini, hanya papan penunjuk, papan peringatan, dan papan
nama candi. Meskipun artikel tentang candi Gunung Gangsir sempat saya
cari di Google dan saya dokumentasi, isinya sama dengan apa yang
dikisahkan Ibu Nurjanah. Kisah tentang candi ini adalah kisah warisan
yang turun temurun diceritakan oleh masyarakat sekitar. Bisa jadi
ditambah, bisa jadi dikurangi. Terlepas dari itu, candi ini diklaim
sebagai candi batu bata merah tertua di Jawa Timur.
Dibangun di atas lahan 62 x 24 meter ---sesuai dengan pagar bumi yang telah dibuat pemerintah, dusun Kebon Candi, desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan candimemiliki panjang 20 meter dengan lebar 17 meter, tersusun atas tumpukan batu bata berbentuk segi empat dengan empat tingkat dan menghadap ke timur. Memiliki sebuah pintu yang cukup sulit untuk
dimasuki karena terlalu kecil. Mungkin juga ini sebuah relung yang terdapat di tingkatan ke tiga. Untuk mencapainya ada sebuah titian anak tangga setinggi 3 meter. Candi ini merupakan candi dengan tumpukan batu bata merah dengan relief terbanyak. Sayang, banyak relief yang hilang karena dicuri. Motif reliefnya berbentuk bejana dengan aneka hiasannya, serta sebuah relief wanita yang sudah tidak utuh lagi, bisa jadi sudah rusak.
Kisah yang berkembang di masyarakat menuturkan bahwa candi ini berfungsi sebagai tugu peringatan atas keberhasilan panen tanaman pangan pada masa itu. Konon, masyarakatnya belum mengenal pola bercocok tanam dan mereka hidup mengembara dan memakan sejenis rumput tuton. Diperkirakan candi ini juga digunakan sebagai lumbung jika menilik pintu kecil yang dimilikinya.
Legenda yang dikisahkan kembali oleh Ibu Nurjanah dan Bapak Agus Susanto,
suatu waktu datanglah Nyi Sri Gati yang mengajak para pengembara
memohon petunjuk kepada Hyang Widi untuk mengatasi
masalah pangan yang sedang mereka hadapi. Beberapa waktu kemudian
datanglah sekelompok burung Gelatik yang menjatuhkan benih sejenis
padi-padian untuk selanjutnya ditanam di sebelah utara candi.
Kisahpun berlanjut, tanaman itupun tumbuh dan menghasilkan padi
sedangkan kulitnya menghasilkan permata. Hal ini menjadikan Nyi Sri
Gati menjadi kaya raya, dan karena kedermawannya pula dia dikenal
dengan nama Mbok Rondho Dermo. Kekayaannya tentu saja menarik
perhatian banyak orang termasuk orang-orang kepercayaannya sendiri.
Mereka mulai menggelapkan perhiasan-perhiasan yang akan dijual ke
daerah lain, namun karena kesaktiannya perahu yang ditumpangi para
penjarah dilontarkan dan menjadi gunung Prau. Konon, gunung itulah
yang saat ini terletak di sisi gunung Penanggungan.
Itulah legenda yang tidak akan pernah lepas dari asal usul suatu
daerah. Gunung Gangsir masih menyisakan misteri kapan dan untuk apa
candi itu dibuat. Saat ini sedang dalam perbaikan, menyusun kembali
batu bata menjadi sebuah bangunan yang disebut dengan CANDI.
Akses menuju ke Candi Gunung Gangsir tidaklah sulit, hanya saja jika
menggunakan angkutan umum masih harus dilanjutkan dengan menumpang
ojek. Dari arah Malang, masuk melalui Pasar Pandaan lurus ke Utara
menyusuri jalan Gunung Gangsir. Sepanjang perjalanan kita akan
menikmati pemandangan kawasan industri (pabrik) hingga puncak Gunung
Gangsir. Sesampainya di perempatan Beji, belok kanan lebih kurang
2km hingga menemukan papan penunjuk Candi Gununggangsir. Dari papan
penunjuk, menyeberang rel kereta api (hati-hati karena lintasan
tidak berpintu) 100 meter ke depan terpampang jelas bangunan candi
ditengah hiruk pikuknya perkampungan.
Jika melihat posisi pintu dan tangga, candi ini menghadap ke arah
timur, namun pelataran candi justru di sebelah barat. Jika pagi
hari, memotret badan candi dari sisi pelataran harus berhadapan
langsung dengan sinar matahari. Selamat berburu, jangan lupa cukup
tinggalkan jejak kaki dan capture tanpa harus menyisakan sampah dan
goresan.
Keep clean, save our herritage!
http://www.facebook.com/album.php?aid=28980&id=114650075251532&ref=mf
Essay & Photo by Andika Prasetyo