Story: Sekaten

Date: 24-01-2011
| More

sekaten3

Di tahun 1939 Caka (1477 M), Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara bersama para wali membangun sebuah masjid yang sekarang menjadi Masjid Raya Demak. Berbagai acara keagamaan diselenggarakan di sana termasuk syiar dan lantunan ayat-ayat suci memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabbiul Awwal atau lebih dikenal dengan nama Maulid Nabi. Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan, Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga diharapkan dapat menarik masyarakat untuk ikut hadir.

 

Sejatinya, seusai acara tersebut masyarakat melakukan syahadatain (mengucap dua kalimat syahadat) sebagai syiar agama islam yang dituntun para wali. Lambat laun, dengan perbedaan lafal dan pengucapan syahadatain berubah menjadi sekaten.

 

sekaten1 (real size)

Budaya ini terbawa hingga Mataram pecah, termasuk kemudian berkembang di Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta. Dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang, hingga dikeluarkannya gunungan yang berupa hasil bumi sebagai perwujudan rasa syukur atas segala rejeki yang dilimpahkan Sang Pencipta.

 

Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan membaca riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan masyarakat umum. Selanjutnya, prosesi numplak wajik, udhik udhik, serta pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai upacara puncak sekaten.

 

Capture yang saya ambil kali ini lebih kepada hiruk pikuk perayaannya, bukan pada prosesinya. Dimana setiap tahun alun-alun utara Kraton Yogyakarta ditutup selama satu bulan penuh yang kemudian dikenal dengan sebutan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Awalnya perayaan ini untuk memberikan hiburan gratis bagi masyarakat luas dengan mengangkat seni budaya setempat seperti ketoprak, wayang orang, sendra tari, dan permainan-permainan rakyat.

 

Seiring dengan bergulirnya waktu, PMPS menjadi salah satu sumber PAD Pemda dari tiket masuk dan retribusi parkir. Meski tidak dipungkiri masyarakat sekitar mendapatkan berkah selama PMPS berlangsung. Memang itu tujuannya bukan?

 

sekaten2 (real size)

Selain itu, teknologi sempat merubah wacana PMPS dari hiburan rakyat menjadi ladang bisnis dengan memasang giant dome yang dilengkapi penyejuk ruangan mirip perhelatan pameran internasional. Otomatis harga tiket masuknya juga melonjak. Banyak diantara pengunjung yang mengurungkan niatnya, padahal mereka sudah memboyong keluarga besarnya untuk berbagi ceria di meriahnya sekaten.

 

Berdasarkan pengalaman itulah akhirnya pemda kembali membuka arena sekaten dengan beratap langit, dihiasi bintang dan temaram cahaya bulan. Panggung kesenian kembali berdiri di sisi barat, sementara panggung musik di sisi timur. Tradisi sudah kembali, seperti endhog abang (telur berwarna merah) dan sate kere yang selalu menghiasi Sekaten.

 

 

Essay & Photo by Andika Prasetyo

Contributor IDD

Story and Research

24-01-2011
sekaten3 Di tahun 1939 Caka (1477 M), Ra…
More ...
21-01-2011
James1 Seorang photographer sebenarnya dihadapkan …
More ...

News

23-12-2010
merapi 01 Hari minggu tangga…
More ...
11-12-2010
g.bromo Hingga hari ini, Gunung Bromo m…
More ...