
Hamparan kosong yang luas. Ya, sebuah kekosongan, semacam kekeringan. Rasanya ada sebuah esensi yang hilang, yang membuah kita makin jauh dengan bangunan-bangunan tempat kita beribadah, menyembah zat Agung yang kita sebut Tuhan.
Rasanya makin terasa, sebuah kekeringan yang menyengat, tentang hati dan perilaku kita pada sesama. Tentang "tepo sriro", sebuah sikap menghargai dari hati. Emosi kian berada di depan, kepentingan selalu tertebak berada di balik layar.
"Yang Besar" selalu identik dengan jabatan ,kekuasaan, juga kekayaan. "yang kecil" selalu punya label miskin, tak terdidik, manusia kelas dua, kumuh, menjadi perusuh. Tak bermaksud saling menyalahkan tentang sebuah keinginan, namun apa saya hanya melihat sebuah kegersangan yang makin mudah menyengat siapa saja untuk menjadi "panas."
Senyum ramah, sapaan hangat, rasa malu dan ketulusan sudah tak pernah musim. Mungkin musim ini hilang akibat global warming, mungkin juga mati kita bunuh sendiri.
Banyak dari "Yang Besar" dan "yang kecil" semakin jauh dari "rumah Tuhan." Rumah Tuhan yang berarti adalah kedamaian, ketentraman, penuh kasih dan kehangatan. Banyak dari "Yang Besar dan "yang kecil" makin kering kerontang dalam sis-sisa jaman. Mereka berlari berlomba menangkap angin keinginan, yang entah dengan apa akan dijaringnya.
Hati menjadi semakin tebal, tak bisa merasa sebuah sentuhan kasih. Tawa hanyalah pesona yang ditebar untuk menjaring angan.
Aku tak paham benar...
Aku hanya bertanya...
Aku hanya berharap atas kegelisahan ini....
Semoga makin banyak hati yang kembali mampu merasakan kehangatan saling menghargai dan mengasihi dalam sisa jaman ini.
Salam,
David Ardyanta/IDD
Photo by PW/IDD