
Pura Dalem Balingkang, adalah Pura unik karena adanya ornamen uang kepeng dan interiornya. Pura yang mirip pagoda ini juga dijadikan istana raja oleh keturunan Raja Sri Jaya Pangus. Di bagian tengah terdapat palinggih Ratu Ayu Subandar, didominasi warna merah dan kuning. Dua warna itu khas kelenteng/wihara. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Cing Wie. Diyakini membawa berkah. Akulturasi budaya sudah terjadi berabad-abad yang lampau. Bgaimana ceritanya?
Desa Pinggan termasuk Bali Mula (Aga). Desa kuno terletak di wilayah Batur yang sulit dijamah Hindu Majapahit. Raja wilayah ini pada 1181-1269 M adalah Raja Sri Jaya Pangus Harkajalancana. Di masa itu, ada saudagar Tionghoa bermarga Kang. Dia bersama anak perempuannya bernama Putri Kang Cing Wie, berlayar ke Asia Tenggara untuk berdagang. Kapal saudagar Kang hancur karena badai dan mereka terdampar di Bali. Mereka tak punya pilihan lain selain hidup di tempat baru itu. Setelah agak lama berjalan, mereka sampai di wilayah Batur. Raja Sri Jaya Pangus terpesona melihat kecantikan Putri Kang Cing Wie. Dia mempersuntingnya. Putri Kang Cing Wie pun mencintai keluarga baru, rakyat dan daerah barunya dengan tulus. Pinggan-lah pelabuhan terakhirnya. Putri ini lantas bergelar Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna (Putri Cina). Selama hidupnya, Raja Sri Jaya Pangus punya dua permaisuri, yaitu Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna.
Setelah Putri Kang Cing Wie wafat, sebagai bentuk cinta Raja, dibangun Pura yang diberi nama Pura Dalem “Balingkang”. Terletak di sebelah kiri jalan dari arah danau Batur. Nama Balingkang diyakini berasal dari kata kata “BALI + ING (Permaisuri pertama ) KANG (Putri Kang-permaisuri kedua)”. Cinta Raja Sri Jaya Pangus kepada Putri Kang Cing Wie diwujudkan masyarakat Bali dalam simbol ‘Barong Landung’ yang selalu berdampingan. Barong Landung selalu ada, bila kisah senderatari Legenda Balingkang ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) atau perayaan lainnya.
Selain di wilayah Bali Aga, ada desa-desa tua yang menunjukkan dengan jelas akulturasi Bali dan Tionghoa. Ada desa Songan (dari kata Song Ahn). Ada juga desa Lampu (dari marga Lam dan Pho). Tapi desa terpenting bagi sejarah Tionghoa di seputar Batur adalah desa Pinggan.
Akulturasi Bali Tionghoa terlihat adanya uang kepeng Tiongkok yang menunjukkan, bahwa uang zaman Tang (abad 7-9 Masehi), dipakai sebagai alat transaksi ekonomi di Bali. Fungsi uang kepeng Tiongkok sebagai penukar yang sah di Bali berlanjut sampai masa kolonial. Sampai sekarang pun uang kepeng dipakai sebagai pelengkap upacara agama Hindu.
Selain mata uang kepeng, unsur budaya Tionghoa juga berpengaruh pada seni di Bali. Seni ukir dan taribaris Tionghoa di desa Sanur. Tari dengan kostum yang unik.
Juga arsitektur Bali. Bangunan dengan atap bertingkat yang lazim di Bali dikenal dengan nama Meru terlihat adanya pengaruh arsitektur Tionghoa. Seni ukir dengan pola sulur atau batang perambat disebut patra Tionghoa. Sampai sekarang perayaan Galungan dan Kuningan dimeriahkan pertunjukan barong yang berasal dari Tiongkok.
Sumber: Kabari Online
Photo by PW/IDD