
Dulu mereka berjalan di atas ombak, sekarang mereka berjalan di atas badai. Ombak dan badai itu bernama perubahan. Dengan segala sarana dan teknologi, ombak telah berkembang lebih ganas menjadi badai. Namun ada golongan orang-orang yang tetap tidak berubah dalam perubahan, tetap dalam pikirannya, kesederhanaannya, keyakinannya, identitasnya dan berbagi harapannya tentang dunia dan hidup ini.
Tengoklah mereka, yang berada di putaran jaman namun tak mampu lagi mengikuti dan memilih tetap menjadi adanya. Mungkin dengan berjualan “kembang telon” ia telah mampu memberi bekal bagi anak-anaknya hingga sarjana dan mampu turut serta dalam gelombang perubahan. Harapan yang digantungkan bagi generasi penerus yang diharap mampu untuk terus menjadi saksi segala perubahan.
Anak-anaknya mungkin telah berhasil bersahabat dengan perubahan, ikut arus dan terus mendayung. Namun sebenarnya mereka juga banyak yang hilang dari harapan orang tuanya. Kehilangan keyakinan, identitas dan kebersahajaan yang dulu dititipkan dan diharapkan saat mereka telah memiliki bekal dan mengarungi lautan hidup. Akhirnya mereka sibuk sendiri, repot, ribet hingga sering kali menjadi hilang dalam menghadapi perubahan, melupakan orang-orang yang telah berusaha untuknya agar mendapat bekal yang cukup. Mereka telah merasa menemukan eksistensi yang secara sadar atau tidak, telah menjadi tujuan, menjadi sesuatu yang mereka kejar. Mereka telah diakui oleh orang lain dengan segala hal yang dimiliki. Bukan hanya menjadi manusia yang dihitung, mereka telah menjadi “yang diperhitungkan” oleh orang lainnya, oleh lingkungannya. Eksistensi (yang menjadi tujuan) menjadikan mereka larut dalam arus yang tak dimengerti.
Merekalah yang kemudian tertinggal dan tetap, tidak berubah dalam segala perubahan. Entah ini sebuah kekuatan atau justru kelemahan. Mereka juga tampak tak berdaya, tak punya kemampuan yang cukup untuk punya bekal dalam mengikuti perubahan. Namun juga ada sebuah kesadaran yang kokoh, bahwa juga hidup mesti dilanjutkan, meski dalam banyak hal mereka telah dilupakan, ditinggalkan bahkan oleh anak-anaknya, lingkungannya dan oleh jaman itu sendiri. Mereka telah (mungkin terpaksa dengan keterbatasannya) memilih. Menjadi “sesuatu” dan “ada.”
Essay & Photo by David Ardyanta
Indonesia Discovery