
Kubah Makam Sultan Abdur Rahman (Raja Sumenep 1811-1854), Asta Tinggi, Sumenep. Madura.
Rumor yang menjadi polemik hingga saat ini adalah tentang adanya makam Pangeran Diponegoro yang tak jauh dari lingkungan makam Asta Tinggi di Sumenep. Menurut Bendara Akhmad (Penyusun "Lintasan Sejarah Sumenep dan Asta Tinggi Beserta Tokoh di Dalamnya"), mengatakan bahwa yang tertangkap pada saat perundingan pada tanggal 25 Maret 1830 di rumah Residen Magelang, dan diasingkang ke Manado pada tanggal 3 Mei 1830 adalah Turkiyo Jokomatturi.
Sultan Abdur Rahman sendiri yang menemui Turkiyo Jokomatturi dan di jelaskan bahwa Pangeran Diponegoro yang asli sedang melakukan penyerangan ke arah Timur bersama gurunya (Al Habib Gufron Al Jazuli) yang juga merupakan guru dari Sultan Abdur Rahman.
Beberapa Diponegoro palsu sengaja dibentuk sebagai strategi untuk membingungkan belanda pada waktu itu ( yang menyamar sebagai Pangeran Diponegoro waktu itu salah satunya adalah anak dari Pangeran Diponegoro sendiri)
Beberapa orang Manado (menurut Bendara Akhmad) mengatakan bahwa pada batu nisan makam Pangeran Diponegoro yang berada di Manado juga bertuliskan Matturi, yang sangat besar kemungkinannya diambil dari nama Turkiyo Jokomatturi.
Hal tersebut juga diperkuat politik dari Sultan Abdur Rahman yaitu "Ajala Sotra" untuk menandingi politik "devide et empera' dengan membentuk 8 kelompok penjaga Asta Tinggi yang ternyata diaabadikan sebagai sebuah sandi tentang keberadaan Makam Pangeran Diponegoro.
8 kelompok tersebut adalah Kaji Senga, Kaji Buddhi, Kaji Nangger, Kaji Makam, Kaji Jaja Bangsa, Kaji Jaja Abdur, Kaji Sekkaran dan Kaji Langgar.
Nama 8 kelompok tersebut memang memakai bahasa Madura yang jika diterjemahkan dan digabungkan akan berbunyi; "Awas, perlu diketahui bahwa di belakang Asta Tinggi, tepatnya dibawah pohon Nangger ada makam seorang yang membela kejayaan bangsa dan agamanya. Harap di ziarahi. Kalau tidak sempat, bawa ke langgar (mushola) untuk di do'akan oleh para Kiai/Ulama."
Foto by DvD/ IDD