
Pada hari-hari tertentu petilasan Eyang Sakri di lereng Gunung Arjuna ini menjadi salah satu tempat untuk “mengolah rasa” bagi beberapa penganut Kejawen. Letaknya satu kawasan degan Petilasan Eyang Abiyasa dan Eyang Sekutrem.
Jika di runut dari bawah, di lereng Arjuna terdapat beberapa petilasan yaitu: Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Ayang Sekutrem, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar. Menurut mitosnya, lereng Gunung Arjuna ini dijaga oleh Bambang Wisanggeni (Salah satu tokoh wayang yang merupakan anak dari ARJUNA dengan Bathari Dresanala-Putri Bathara Indra). Jika melihat nama-nama diatas yang merupakan nama-nama tokoh dalam dunia pewayangan, kemungkinan besar yang dimaksud dengan Eyang Sakri disini adalah Bambang Sakri. Berikut ini adalah sedikit cerita tentang Bambang Sakri dalam dunia pewayangan.
Bambang Sakri dalam dunia pewayangan merupakan putra tunggal dari Resi Sekutrem dengan Dewi Nilawati, dari pertapaan Retawu, puncak Gunung Saptaarga. Dia lahir bertepatan dengan terbentuknya telaga di gunung tersebut yang kemudian dikenal dengan Telaga Retawu. Bambang Sakri gemar bertapa dan berburu. Dia sangat sakti dan mahir menggunakan senjata panah. Bambang Sakri menikah dengan Dewi Sati, putri Prabu Partawijaya, raja dari negara Tebelsuket. Dari perkawinan itu, dia memperoleh putra bernama Palasara.
Oleh ayahnya Sakri diserahi padepokan Retawu. Resi Sekutrem kemudian menetap di pertapaan Girisarangan. Setelah palasara dewasa, Padepokan Retawu oleh Sakri di serahkan pada Palasara. Dia kemudian menetapdi Pertapaan Argacandi (salah satu dari tujuh puncak gunung Saptaarga). Bambang Sakri banyak berjasa pada Dewata dan Kahyangan Suralaya, karena itu ia diberi gelar Bathara.
DvD/IDD
Photo by DvD/IDD