
DUNIA ramalan telah menjadi keseharian bagi warga Tionghoa. Meramal secara tradisional kuno pun hingga kini masih membudaya. Sebut saja ramalan ciamsi.
Ciam sie baru mulai ada dalam catatan sejarah pada masa dinasti Tang. Cara ini berasal dari Yua-nyang daogoan. Dimana daoshi di sana menggunakan cara ciamsi untuk memutuskan hubungan yang bisa buruk," terangnya. Versi lain mengatakan ciamsi itu dimulai dari ZHANG TAO LING, ketika beliau membentuk AGAMA TAO (WU DOU MI TAO) secara resmi sebagai sebuah institusi keagamaan pada tahun 143 M, ketika itu beliau sudah menuliskan peraturan2 dalam organisasinya, termasuk didalamnya ritual2 keagamaan, HU, FAK dsb2, termasuk syair2 Ciamsi.
Karena beliau sangat menyadari kalau ingin mendapatkan banyak pengikut ya harus memperkenalkan AGAMA TAO yang baru dibentuknya itu kedalam masyarakat, maka sesuai dengan situasi geografis dan keadaan pola perekonomian masyarakat dimasa itu, beliau mendirikan banyak pos2 / pondok2 / kelenteng pelayanan untuk para musafir yang berlalu lalang dijalan antara satu kota dengan kota lainnya di Tiongkok.
Nah untuk memudahkan pelayanan dalam memberikan solusi jawaban pertanyaan tentang ramalan masa depan nasib atau pekerjaan orang yang datang ke kelenteng pelayanan WU DOU MI TAO, maka dibuatlah CIAMSI dalam format syair sederhana. Hanya saja dulu pertama kali ada CIAMSI satu set cuma ada 36 nomor, bagi yang ingin mendapatkan petunjuk cukup berdoa didepan altar DEWA / DEWI, kemudian mengambil semacam undian nomer Ciamsi, dan selanjutnya baca isi syairnya, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan masing2 pemohon.
Sesuai dengan kemajuan zaman sekarang, ada Kelenteng yang nomer Ciamsinya sampai sebanyak 120, ada yang 88 dsb, tergantung selera masing2 Kelenteng.
Pada jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Guru-Guru agama untuk meminta bantuan atau pertolongan. Ada yang menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan penyakit-penyakit serta meminta obat-obatan.
Tetapi pada bulan bulan-bulan tertentu, para Guru itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lain-lainnya. Dalam pencarian obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.
Untuk itu para Guru membuat Ciam Sie supaya masyarakat atau orang-orang yang datang dari jauh tidak kecewa karena Gurunya tidak berada di tempat.
Masyarakat yang tertolong kemudian membawa oleh-oleh untuk Guru tersebut sebagai tanda terima kasih. Karena Guru-Guru tidak berada di tempat, maka diletakkan di atas meja sembahyang.
Versi lain menurut pakar ciamsi, Xuan Tong menjelaskan, ciamsi, qianshi, qiuqian merupakan suatu cara mencari jawaban atas permasalahan diri yang dihadapi oleh orang-orang. Isinya adalah syair-syair yang merupakan cuplikan dari kisah-kisah jaman dahulu. Seperti kisah Sungut). Chunqiu, maupun kisah-kisah lainnya.
Jadi, lanjutnya, ciamsi adalah suatu cara dimana berfungsi memutuskan hubungan yang bisa dima-nipulasi dan juga memberikan jawaban dengan "hati" sipenanya itu sendiri. "Ciamsi itu sebenarnya untuk memenuhi rasa ego manusia yang selalu ingin tahu dan mendapat kepastian dalam hidup yang tidak pasti ini." tandasnya.
Ada ciamsi yang hanya berisi 49 ciam saja dan itu menggunakan sistem penghitungan 7 bintang utara. Ada pula yang menggunakan sistem penghitungan waktu 12 jam, dimana setiap jam itu ada 30 ciam. jumlah seluruhnya 360. Satu sistem yang umum dipakai adalah menggunakan Di Gan dan berjumlah seratus lembar, setiap lembarnya berisi 7 bait yang masing2 bait terdiri dari 4 kata.
Ciamsi sebagai media untuk mengetahui peruntungan nasib dari seseorang, orang yang bersangkutan harus terlebih dahulu mengikuti aturan tradisi yang ada dengan cara mengocok batang bambu kecil, menyerupai sumpit berukuran sekitar 10 cm yang dile-takkan di dalam sebuah wadah gelas, setiap batang bambu tersebut memiliki nomor yang sudah disesuaikan dengan jumlah kertas syair.
Tapi sebelum mengocok, seseorang harus melakukan permohonan melalui persembayangan terlebih dulu. Dengan cara menyebutkan nama dan usia dalam hati kemudian mengajukan permohonan di hadapan dewa yang berada di atas podium, baru melempar dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran dengan masing-masing sisinya harus berlainan.
Jika hasil lemparan dua keping kayu tadi sama-sama menunjukkan sisa yang sama, maka orang yang akan diramal belum memperoleh izin dari sang dewa. Namun bila sebaliknya, dua keping kayu tadi menunjukkan sisi yang berbeda, maka boleh melakukan ramalan ciamsie.
Sumber: Siutao.com, Bataviase.co.id.
Photo by PW/IDD